MDindonesia- Tim Satgas Gabungan TNI-Polri saat mengamati ranjau di Gunung
Biru, Tamanjeka, Poso. Foto lain: Barang bukti berupa bom di Gunung
Biru yang diamankan Satgas Gabungan.BUDIYANTO WIHARTO
POSO - Dugaan polisi tentang masih bersembunyinya para DPO kasus
kekerasan dan teror Poso bersama kelompoknya di gunung biru
Tamanjeka,Kecamatan Poso Pesisir,semakin kuat. Dalam operasi sepanjang
hari kemarin (7/3), Satuan Tugas (Satgas) Ops Aman Maleo II menemukan
dua buah bom rantang aktif dan tiga buah jebakan ranjau di dua tempat
berbeda dipegunungan gunung biru.
Penemuan bom rakitan dan ranjau, seakan jadi pertanda bahwa perlawanan dari kelompok bersenjata di Poso masih ada.
Penemuan bom rakitan dan ranjau, seakan jadi pertanda bahwa perlawanan dari kelompok bersenjata di Poso masih ada.
Komandan Satgas Penindakan Ops Aman Maleo II,AKBP
Nurhudayah,mengatakan, dua buah bom rantang aktif ditemukan
masing-masing satu buah di pondok DPO Maskoro alias Daeng Koro (pinggir
hutan gunung biru). Sedangkan satunyalagi di bekas pondok tempat
persembunyian para DPO diperut hutan gunung biru.
Jarak dan waktu tempuh penemuan dua bom di tempat berbeda itu, sekitar
satu jam jalan kaki. Hingga usai Magrib, dua buah bom belum bisa dibawa
turun ke Pos pengamanan di Dusun Tamanjeka. "Masih dijinakan Tim Jibom
gegana Polda Sulteng di TKP," jelas Wakil Dansatgas Brimobda Sulteng di
Dusun Tamanjeka.
Diperkirakan,dua buah bom rantang temuan Satgas,baru bisa dibawa turun
gunung malam hari(tadi malam,red). Mengingat TKPnya sangat jauh. Jarak
tempuh dari dusun Tamanjekake TKP bom di gubuk Daeng Koro,sekitar tiga
jam perjalanan kaki. Kondisi jalan mendaki atau berada di kemiringan
60-an derajat. "Medannya berat dan sangat rawan," ujar Nurhudayah.
Dimana tiga buah ranjau jebakan ditemukan? Nurhudayah menyebutkan,ketigaranjauditemukan diwilayah hutan gunung biru. Diceritakannya, kemarin ada dua tim satgas menyisir lereng dan perut gunung biru. Tim I dipimpin Letda Infanteri martinus (Yonif 714/SM), sedangkan tim II dirinya yang jadi pimpinannya.
Dimana tiga buah ranjau jebakan ditemukan? Nurhudayah menyebutkan,ketigaranjauditemukan diwilayah hutan gunung biru. Diceritakannya, kemarin ada dua tim satgas menyisir lereng dan perut gunung biru. Tim I dipimpin Letda Infanteri martinus (Yonif 714/SM), sedangkan tim II dirinya yang jadi pimpinannya.
"Tim I yang menemukan bom digubuk Maskoro dan dua lubang ranjau
jebakan, dan tim II yang menemukan bom dibekas pondok dalamhutan gunung
biru bersama satu lubang ranjau jebakan," terang perwira dua melati
dipundak ini.
Masing-masing tim terdiri dari 10 personel gabungan TNI dan Brimob
bersenjata lengkap. Setiap lubang ranjau jebakan berukurang lebar 50 cm
dengan panjang 1 meter dan dalam 1,5 meter.
Masing-masingranjau jebakan,berisi penuh dengan pasangan bambu dan
batang kayu lancip ditutup dengan semak/rumput kering. "Berjalan dihutan
gunung biru,harus ekstra hati-hati. Kalau tidak kita akan terperosok
dalam lubang ranjau," ujar Dansatgas Penindakan ini.Selain menemukan ranjau jebakan dan bom rantang aktif, satgas Ops Maleo juga menemukan jejak suplay logistik para DPO dan kelompoknya. "Bekas-bekas suplay logistik DPO masih sangat baru. Tapi,sulit ditebak alur jalannya,karena didalam hutan gunung biru banyak cabang jalan bekas dilewati orang," sebut Nurhudayah. "Dengan kondisi yang ada,kuat dugaan para DPO dan kelompoknya masih diseputaran gunung biru," sambungnya.
Diakuinya,medan gunung biru sangat berat dan luas,hingga menembus wilayah gunung Koroncopu,Desa Tambarana. Gunung Koroncopu adalah gunung yang pernah menjadi TKP baku tembak polisi versus kelompok sipil bersenjata sekitar November 2012 lalu.(radarsulteng)






0 komentar:
Posting Komentar