Senin, 11 Maret 2013



MDindonesia- Tim Satgas Gabungan TNI-Polri saat mengamati ranjau  di Gunung Biru, Tamanjeka, Poso. Foto lain: Barang bukti berupa bom di Gunung Biru yang diamankan Satgas Gabungan.BUDIYANTO   WIHARTO
POSO - Dugaan polisi tentang masih bersembunyinya para DPO kasus kekerasan dan teror Poso bersama kelompoknya di gunung biru Tamanjeka,Kecamatan Poso Pesisir,semakin kuat. Dalam operasi sepanjang hari kemarin (7/3), Satuan Tugas (Satgas) Ops Aman Maleo II menemukan dua buah bom rantang aktif dan tiga buah jebakan ranjau di dua tempat berbeda dipegunungan gunung biru.
Penemuan bom rakitan dan ranjau, seakan jadi pertanda bahwa perlawanan dari kelompok bersenjata di Poso masih ada. 
Komandan Satgas Penindakan Ops Aman Maleo II,AKBP Nurhudayah,mengatakan, dua buah bom rantang aktif ditemukan masing-masing satu buah di pondok DPO Maskoro alias Daeng Koro (pinggir hutan gunung biru). Sedangkan  satunyalagi di bekas pondok tempat persembunyian para DPO diperut hutan gunung biru.
Jarak dan waktu tempuh penemuan dua bom di tempat berbeda itu, sekitar satu jam jalan kaki. Hingga usai Magrib, dua buah bom belum bisa dibawa turun ke Pos pengamanan di Dusun Tamanjeka. "Masih dijinakan Tim Jibom gegana Polda Sulteng di TKP," jelas Wakil Dansatgas Brimobda Sulteng di Dusun Tamanjeka.
Diperkirakan,dua buah bom rantang temuan Satgas,baru bisa dibawa turun gunung malam hari(tadi malam,red). Mengingat TKPnya sangat jauh. Jarak tempuh dari dusun Tamanjekake TKP bom di gubuk Daeng Koro,sekitar tiga jam perjalanan kaki. Kondisi jalan mendaki atau berada di kemiringan 60-an derajat. "Medannya berat dan sangat rawan," ujar  Nurhudayah.
Dimana tiga buah ranjau jebakan ditemukan? Nurhudayah menyebutkan,ketigaranjauditemukan diwilayah hutan gunung biru. Diceritakannya, kemarin ada dua tim satgas menyisir lereng dan perut gunung biru. Tim I dipimpin Letda Infanteri martinus (Yonif 714/SM), sedangkan tim II dirinya yang jadi pimpinannya.
"Tim I yang menemukan bom digubuk Maskoro dan dua lubang ranjau jebakan, dan tim II yang menemukan bom dibekas pondok dalamhutan gunung biru bersama satu lubang ranjau jebakan," terang perwira dua melati dipundak ini.
Masing-masing tim terdiri dari 10 personel gabungan TNI dan Brimob bersenjata lengkap. Setiap lubang ranjau jebakan berukurang lebar 50 cm dengan panjang 1 meter dan dalam 1,5 meter.
Masing-masingranjau jebakan,berisi penuh dengan pasangan bambu dan batang kayu lancip ditutup dengan semak/rumput kering. "Berjalan dihutan gunung biru,harus ekstra hati-hati. Kalau tidak kita akan terperosok dalam lubang ranjau," ujar Dansatgas Penindakan ini.
Selain menemukan ranjau jebakan dan bom rantang aktif, satgas Ops Maleo juga menemukan jejak suplay logistik para DPO dan kelompoknya. "Bekas-bekas  suplay logistik DPO masih sangat baru. Tapi,sulit ditebak alur jalannya,karena didalam hutan gunung biru banyak cabang jalan bekas dilewati orang," sebut Nurhudayah. "Dengan kondisi yang ada,kuat dugaan para DPO dan kelompoknya masih diseputaran gunung biru," sambungnya.
Diakuinya,medan gunung biru sangat berat dan luas,hingga menembus wilayah gunung Koroncopu,Desa Tambarana. Gunung Koroncopu adalah gunung yang pernah menjadi TKP baku tembak polisi versus kelompok sipil bersenjata sekitar November 2012 lalu.(radarsulteng)

0 komentar:

Posting Komentar